11 Tahun beroperasi Subterminal Delanggu tetap sepi penumpang
Sejak diresmikan 18 Mei 1998 silam hingga kini Subterminal Delanggu tetap saja sepi dari calon penumpang. Alhasil, lebih dari satu dasawarsa ini, terminal itu hanya dijadikan lahan antrean angkutan umum jalan raya untuk menghindari kemacetan arus lalu lintas.
Seperti, Selasa (8/12) lalu, suasana terminal itu tampak lengang. Hanya terdapat sejumlah angkutan umum yang parkir. Mereka menunggu giliran dipersilahkan keluar terminal untuk menarik penumpang. Sedikit pun tidak terlihat adanya penumpang yang datang ke subterminal itu.
Kendati terdapat sejumlah kios toko di sekitar lokasi, namun tak terlihat adanya pembeli. Itu mungkin pasalnya, kebanyakan kios dalam keadaan tertutup rapat.
Koordinator Subterminal Delanggu, Ngatimin, saat ditemui di kantornya mengatakan, sepinya calon penumpang itu sudah terjadi sejak subterminal tersebut diresmikan pada tahun 1998. Tak pernah ada perubahan kondisi, padahal mestinya subterminal itu bisa menjadi lokasi naik-turun penumpang angkutan umum dari arah Yogya-Solo sebelum melintasi jalur utara.
Dijelaskannya, sesuai aturan, setiap angkutan umum harus berbelok menggunakan jalur utara untuk menghindari kemacetan di kawasan Pasar Delanggu. Nyatanya, para pengemudi angkutan umum mengabaikan aturan tersebut dengan alasan menghemat biaya. ”Tidak adanya bus yang berhenti membuat Subterminal Delanggu tanpa penumpang. Mereka lebih memilih menunggu bus di luar terminal,” tutur Ngatimin.
Tempat mangkal
Karena Subterminal Delanggu tak bisa berfungsi sebagaimana mestinya. Ngatimin mengakui, sejak tahun 2003 silam, pihaknya sengaja berinisiatif menjadikan subterminal itu sebagai tempat mangkal angkutan umum.
Menurutnya, selain bisa menyumbangkan retribusi bagi pendapatan asli daerah, langkah itu juga bisa untuk mencegah macetnya arus lalu lintas akibat banyaknya angkutan umum yang beroperasi di kawasan Pasar Delanggu. Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Terminal Klaten, Totok Gantoro juga mengakui bahwa Subterminal Delanggu bermasalah. Menurut dia, pemanfaatan Subterminal Delanggu terhambat kondisi di lapangan. – Oleh : Moh Khodiq Duhri
Disalin dari: SOLOPOS, Edisi : Kamis, 10 Desember 2009 , Hal.VII




