This option will reset the home page of KLATEN ONLINE restoring closed widgets and categories.

Reset KLATEN ONLINE homepage

dr. Eka Julianta Wahjoepramono, Sp. BS

eka juliantaDokter Ahli Bedah Saraf

Dia salah seorang dokter ahli bedah saraf yang masih terbilang langka di Indonesia. Dia sudah menemukan teknologi baru operasi bedah saraf otak, yakni melalui hidung yang disebutnya dengan Trans Clival. Selama kurun waktu 10 tahun, dr Eka sudah menangani operasi 2.839 penderita, dan hanya 2 persen yang gagal dengan berbagai alasan medis.

Untuk melakukan operasi itu, pria bernama lengkap Dr Eka Julianta Wahjoepramono Sp BS, kelahiran Klaten, 27 Juli 1958, yang mempelajari ilmu yang ditekuninya itu di sejumlah negara, kini sudah menemukan teknologi baru operasi bedah saraf otak, yakni melalui hidung yang disebutnya dengan Trans Clival. Bahkan Eka dan tim nya sudah menangani penderita dari berbagai negara yang mempercayainya sebagai ahli bedah saraf otak terkemuka.

Nama: Dr Eka Julianta Wahjoepramono Sp BS
Lahir: Klaten, 27 Juli 1958
Agama: Kristen
Isteri: Hanna K Damar
Anak: Petra, Nico, dan Grace
Profesi: Ahli Bedah Saraf

Pendidikan:
- Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, Semarang, 1983

Jabatan: Kepala Neuro Science Center, RS Siloam Gleneagles, Karawaci, Tangerang

Dokter ahli bedah saraf masih sangat langka di Indonesia. Padahal kasus bedah saraf dari tahun ke tahun meningkat. Sebagai perbandingan, RS Siloam Gleneagles di kawasan Lippo Karawaci Tangerang pada 1996 hanya menangani 50 kasus, namun pada 2006 ini yang perlu penanganan operasi hampir mendekati 500 kasus.

Di tengah kesibukannya menangani pasien maupun menjadi konsultan dari berbagai rumah sakit dan organisasi bedah saraf, maupun sebagai Honorary President 6th Asian Conference of Neurosurgical Surgeon (ACNS) 2006, ia bersedia menerima Pembaruan untuk berbincang-bincang di ruang kerjanya RS Siloam, Selasa (21/3). Perbincangan dilakukan bertepatan dengan 10 tahun dia memimpin Neuro Science Centre. Berikut petikannya.

Kasus bedah saraf jumlahnya terus meningkat. Indikasi apa ini?
Betul, kami juga merekam angka yang cukup fantastis untuk kasus bedah saraf terutama saraf otak. Beberapa sebab bisa dikemukakan, antara lain karena kecelakaan, stroke, atau pembuluh darah pecah, tumor otak, tumor tulang belakang, dan sebagainya. Namun, saya lebih banyak menangani operasi otak karena stroke yang mencapai angka 902 kasus, disusul tumor sebanyak 657 kasus, tumor tulang belakang 516 kasus, dan trauma akibat kecelakaan sebanyak 486 kasus.

Dari penanganan kasus-kasus itu, menunjukkan indikasi selain penyakit yang berkembang bertambah juga menunjukkan kita sudah bisa menangani kasus ini secara baik, sehingga banyak yang percaya dan datang ke kami agar dapat ditangani.

Penderitanya dari mana saja?
Saya dan kita semua bersyukur bisa membantu pasien yang berdatangan dari Sabang sampai Merauke, bahkan juga dari negara lain seperti Singapura. Padahal, mereka memiliki banyak tenaga ahli, namun datang ke saya untuk ditangani. Yang membanggakan, semuanya bisa ditangani dengan baik. Saya sekarang lagi menangani WN Jepang dan Amerika, dan semuanya menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Saya sendiri merasa terharu. Ternyata, kalau kita mau bekerja baik, bisa memberikan kepercayaan kepada bangsa lain. Saya akan sangat malu kalau kita tidak bisa mengobati otak bangsa sendiri yang perlu dioperasi karena berbagai penyakit yang dideritanya.

Selain alasan medis, ada alasan lain sehingga mereka memilih berobat kepada Anda?
Yang pasti, jika berobat di sini, jauh lebih murah. Misalnya di Singapura untuk operasi bisa mencapai Rp 250 juta, tetapi kita bisa seperlimanya saja. Bahkan jika di Amerika harus ada jaminan Rp 500 juta baru bisa ditangani oleh ahli di sana. Makanya, tidak heran jika ada orang Singapura atau Jepang datang ke Indonesia, karena mereka sudah percaya kita bisa menangani dengan baik dan memberikan fasilitas yang baik pula.

Ada sejumlah pasien saya yang sudah berobat ke Amerika dan telah menghabiskan biaya sangat banyak, ada yang lebih dari Rp 30 miliar akhirnya kembali ke Indonesia dengan pesawat carteran dan minta penanganan ke saya.
Mereka akhirnya percaya tidak perlu lagi berobat ke luar negeri. Karena ada juga yang berobat ke Singapura karena didorong pihak asuransinya. Sementara dokter di sana ada juga yang tidak jujur dan memaksakan pasien tersebut harus dioperasi padahal indikasinya tidak perlu dilakukan.

Beberapa kasus sudah terjadi. Saya mengatakan hal itu karena si pasien sendiri yang sebelum dioperasi menghubungi saya, dan setelah mempelajari penyakitnya saya mengatakan tidak perlu. Hal itu kemudian didukung pernyataan sejumlah dokter lainnya di negara itu, sehingga si pasien langsung pergi meninggalkan rumah sakit itu dan kembali ke Jakarta. Seorang mahasiswi mengalami kejadian buruk. Waktu itu rambutnya sudah digundul, tinggal dioperasi. Iseng-iseng dia mengirim SMS tentang penyakitnya. Saya kemudian memberitahu untuk menanyakan kepada dokter lainnya dulu karena menurut saya tidak perlu dioperasi. Pendapat dokter yang ditanya itu juga sama dengan saya.

Hal itu terjadi karena adanya kongkalikong petugas asuransi dengan dokter di sana. Namun bukan berarti dokter di sana seperti itu semua, karena yang baik juga masih banyak. Jadi kita perlu berhati-hati.

Kepercayaan yang Anda sebutkan bisakah dipertahankan?
Mengapa tidak? Kita harus bisa. Memang kita harus punya komitmen yang kuat, dan mau bekerja keras. Saya selalu tekankan kepada staf saya tidak boleh ada sedikit pun kesalahan atau human error dalam penanganan pasien. Semuanya harus mendapat pelayanan terbaik. Penderita dan keluarga mereka akhirnya percaya, kami benar- benar menjalankan komitmen profesi kami.

Bidang ini sepertinya tidak men- dapat perhatian serius dari pemerintah maupun Departemen Kesehatan?
Ya, memang investasi yang harus ditanamkan untuk mengembangkan pengetahuan bedah saraf otak mahal, dan yang ditangani tidak sebanyak penyakit yang berkembang di masyarakat seperti flu burung, DBD, AIDS dan sebagainya. Untuk satu kasus bedah saraf membutuhkan dana Rp 25 juta hingga Rp 50 juta, kecuali yang memerlukan perawatan berulang-ulang karena terinfeksi penyakit lain.

Tapi, kita harusnya malu, hanya negara kita yang tidak memiliki peralatan lengkap seperti Gamma Knife untuk menangani kasus bedah otak di batang otak yang memang sulit. Saya terpaksa mengirimkan pasien tersebut ke negara lain seperti Singapura atau Jepang, karena kami tidak punya alat.

Untuk membelinya butuh biaya besar mencapai Rp 40 miliar dan itu pun punya batas waktu pemakaian. Di hampir semua negara mereka memiliki alat itu walaupun satu buah. Karena memang penting untuk penanganan bedah saraf otak.

Kalau peralatan operasinya mahal, bagaimana menyiasatinya sehingga Anda dan tim bisa menangani pasien yang membutuhkan pertolongan?
Jujur saya katakan, kita tidak jarang membeli alat bekas dari Jepang. Di sana mereka biasa mengganti peralatan operasi setiap dua tahun sekali padahal terkadang alatnya masih bagus. Nah, itu kita beli dengan harga miring. Mereka juga terkadang menghibahkannya. Tetapi itu pun kita kadang kesulitan membayar ongkos pengiriman.
Memang semuanya butuh perjuangan. Namun, justru dengan kenyataan itu kita tetap bersemangat bekerja dan membuktikan kita justru bisa melakukan banyak hal di tengah keterbatasan.

Anda juga beberapa kali mengembangkan teknologi penanganan operasi saraf otak termasuk bedah otak melalui hidung. Bagaimana penjelasannya?
Dalam setiap pekerjaan kita perlu improvisasi termasuk ketika saya melakukan bedah saraf otak.
Namun, tentunya dengan memperhatikan pertimbangan medis dan kondisi di pasien. Hal yang terjadi berulang- ulang terkadang menimbulkan ide baru dan setelah kita coba ternyata bisa menjadi pilihan baru.

Seperti Trans Clival itu bisa dilakukan karena si penderitanya memiliki tumor di dekat batang otak dan dia memiliki rongga yang cukup besar untuk dimasuki alat. Namun, tidak banyak penderita yang memiliki rongga yang bisa dikerjakan melalui hidung.

Dari sekian ribu pasien, beberapa di antaranya gagal. Bagaimana Anda menyikapi?
Saya pernah berniat mengundurkan diri empat tahun lalu sebagai ahli bedah saraf ketika salah seorang pasien saya meninggal. Sebenarnya dia masih sehat, namun meminta saya segera mengoperasinya. Saya yang lagi berlibur ke Selandia Baru bersama keluarga segera pulang.

Operasi pun di lakukan dan sebenarnya sukses. Namun, menjelang finish, tiba-tiba terjadi accident yang tidak kami ketahui dari mana, ketika ada udara masuk yang masuk melalui pernapasan dan akhirnya ke jantung sehingga pasien saya meninggal.

Setelah itu lebih dari dua minggu saya seperti tidak bisa bangun dan selalu kepikiran. Dari direktur rumah sakit hingga rekan-rekan dokter dan perawat semua berusaha menghibur, namun saya sudah tidak ambil peduli.
Niatnya mau berhenti saja sebagai dokter sampai akhirnya istri pasien yang meninggal itu mengirimkan SMS yang menyatakan dia ikhlas atas kepergian suaminya dan meminta saya untuk tidak berhenti bekerja dan mengabdi kepada kemanusiaan. Sejak itulah jiwa saya bangkit dan akhirnya melanjutkan tugas saya lagi.

Pernah mengalami kesulitan menangani pasien?
Pernah, ketika empat tahun lalu saya harus mengoperasi penderita tumor yang posisi tumornya berada di dalam batang otak.
Padahal, yang namanya batang otak kesenggol saja tidak boleh. Saya melakukannya selama 24 jam dan 24 jam lagi seminggu kemudian. Itu benar-benar pengalaman yang sangat berharga. Syukur kepada Tuhan pasien tersebut sekarang dalam keadaan baik.

Anda juga menangani pasien tidak mampu?
Suatu kebanggaan tersendiri jika bisa membantu orang lain terutama yang tidak mampu. Kalau memang ada yang tidak mampu kita punya Yayasan Otak Indonesia. Kami sebagai dokter yang menangani tidak mengambil biaya seperser pun.

Tetapi kita membutuhkan banyak peralatan dan obat. Untuk itu semua kita mendapatkan dari donator. Sejauh ini masih ada yang suka membantu kami. (Pewawancara: Dewi Gustiana, Suara Pembaruan Minggu, 26 Maret 2006)

Sumber : Tokoh Indonesia Dot Com (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

.

15 Comments

  1. Fifi Untono says:

    Dengar banyak ttg “tangan Dewa” dokter Eka, tapi ternyata dokter Eka specialist di bedah otak ya ?? Kalau ada pasien yg L3,L4 bagian punggung bermasalah, apakah boleh cari dr. Eka ?? Juga my Mom, tangannya yg kiri sepertinya “radang sendi”, dan yg kanan kesemutan.. Boleh konsultasi dgn Dr. Eka ??? Tolong dijawab ya.. Thank You..

  2. yuli says:

    Selamat siang dok..langsung sj dok..apa seh ciri khas dr tumor batang otak??apa bs terkena pada anak usia 5thn,dimana dia mempunyai keluhan dimana posisi leher miring kearah kiri dan nengok ke kanan,selain itu otot2 wajah bagian kiri mengalami kelemahan..mohon jawbanna..terima kasih dok

  3. tania says:

    dok,teman saya mengalami hiperprolaktinemia, setelah melalui pemeriksaan ini-itu (termasuk MRI dengan kontras) ternyata terdapat benjolan 10mm di hipofisis anterior,oleh Sp.OG didiagnosa sbg mikroadenoma (ekspertise Sp.Rad hanya ’sangat mungkin’ mikroadenoma). pengobatan selama 2bln tidak kunjung menjadikan haidnya teratur, adakah kemungkinan penyakit lain dok?trimakasih banyak dok

  4. evi says:

    selamat pagi dokter Eka Julianta. mama saya saat ini terbaring dirumah sakit, setelah dicitiscan menunjukkan ada 2 bercak darah diotaknya, dan ada aneorisma (2 buah), menurut dokter disurabyaa tidak memungkin kan untuk dibawa terbang, kalo bisalnya kita mau bawa mama saya berobat ke dokter Eka Julianta bagaimana caranya , kami amat sangat mohon petunjuk atau mgkn bisa disarankan dokter bedah saraf yang capable dan sesusai untuk mama saya, ini sudah hari ke -6 mama saya tergeletak tidah berdaya dok ( tp masi sadar) cmua dia kesakitan sekali. masuk rumah sakit siloam surabaya hari senin kemaren tensinya 168, 110. hari selasa kemaren sempat turun tensi 130,80. tapi kemaren naik lagi tensi 150,80. dokter kami amat sangat mohon petunjuk ya biar tidak terlambat utnutk mengatasi semuanya . Terimakasih dokter Eka Julianta.

  5. evi says:

    selamat pagi Dokter Eka Julianta, saya mohon petunjuk dok karna saat ini mama saya tergeletak tak berdaya dirumah sakit siloam surabaya (tapi masi sadar cuma dia kesakitan dokter) karna menurut hasil citiscan dikepala mama saya ada 2 bercak darah dan aneorisma (2 buah), menurut dokter surabaya tidak diijinkan terbang dok, karna tensinya 150-80 dok, kemaren sempat turun 130-80, tp tadi pagi naik lagi. kita amat sangat mohon petunjuk dari Dokter Eka Julianta, atau mungkin dokter punya rekomendasi dokter siapa yang capable di Surabaya untuk mengatasi ini , terimakasih dokter. mohoin balasan secepat mungkin ya dokter, supaya kita tidak terlambat.

  6. Mohon maaf sekali bu Evi, website ini hanya sebatas menampilkan profil dari dr. Eka Julianta Wahjoepramono, Sp. BS sebagai seorang putra kelahiran Klaten, kami tidak terhubung dengan dr. Eka secara langsung, sekali lagi mohon maaf dan semoga ibu dari ibu Evi segera mendapatkan kesembuhan.

    Administrator

  7. ahmad arsyad says:

    Dr saya komfirmasi masala penyakit.adik saya
    setelah tabrakan mobil 15 tahun yang lalu adik saya sampai sekarang tidak bisa jalan, informasi dari rumah sakit gleand eagles medan, otak kecilnya kena benturan,dan mengalamai koma 4 bulan di rumkit.

    awal dari kemajuan sakit yang di deritanya adalah bisa tertawa,1 bulan kemudian bisa bergerak tangannya.setelah menjalani trafi mulai bisa menggerakna badan tetapi keseimbangan badan.

    tidak ada.ciri ciri badan kaki tidak mengecil atau postur badan tidak ada yang mengecil

    tolong informasinya dan apakah ada buka praktek di kota medan

    kami sangat berharap pada Dr.untuk bisa melihat adik saya

  8. francescXo says:

    buat sodara2 yg bth consul dgn doct eka, langsung hubungi RS Siloam KARAWACI aja,
    http://www.siloamhospitals.com/
    ato dtg langsung saja ke RS Siloam d karawaci. klo pasien tdk bisa ikud, perwakilan aja dgn membawa hasil rekam medis yg sudah/sedang djalani. smg membantu. thx

  9. suparno says:

    tetangga saya sudah kira-kira 10 lebih lumpuh karena kecelakaan tabrakan motor sekarang usianya sekitar 35 th belum menikah. Hari2 dilalui dgn kursi roda. Dulu dah periksa sarafnya kena. mohon bantuannya untuk penyembuhan. Bila ada yang membantu bisa hubungi Bpk Palijo, Dalem RT.3/2,Sawit, Gantiwarno, Klaten

  10. ERNY says:

    Malam dok, anak saya waktu terlahir normal namun pada usia 3 bulan kata dokter kena hidrosipholus dan usia 10 bulan sudah dioperasi pasang selang . sekarang usianya sudah 8 tahun namun pertumbuhannya tidak seperti anak seusianya. dalam usia sekarang masih belum bisa duduk apalagi berdiri saya kuatir dengan perkembangannya dan bagaimana dengan selang yang ada apakah harus di ganti lagi dengan jalan operasi. kalau toh harus dioperasi untuk perkembangan yang lebih baik kira kira kemana harus saya bawa. mohon bantuannya thanks

  11. ibu nazirah says:

    Malam dok, saya inggin konsultasi ttg penyakit syaraf otak maaf dok,saya mau minta alamat praktek dokter atau nomer telphon agar saya bisa konsultasi langsung dengan dokter

    Terima kasih sebelumnya

  12. eni nurhayati says:

    Siang dokter,saya punya adik laki laki,2 bulan lalu adiku kecelakaan dan pendarahan dikepala sangat banyak,dia sudah dioperasi dirumah sakit blitar oleh specialis bedah saraf,kata dokter yg kena sarafnya.waktu dirumah sakit dia koma beberapa hari habis itu dia bisa buka mata,yg saya mau tanyakan kenapa sampai sekarng adik saya blm bisa berbicara,dan dia gampang marah ndak bisa ngontrol emosinya?sampai sekarang kami masih rutin check up ke rumah sakit 1 minggu sekali,mohon dokter mau kasih tahu obat atau terapi apa yg harus kita lakukan?Terima kasih,eni……..

  13. sylvia says:

    saya punya temen baik. dia berasal dr kel broken home. mamanya tdk peduli dengan dia. papanya habis kecelakaan dan kakinya patah.
    Dia menderita sakit penyumbatan pembuluh darah di otak, dan tidak ingin satupun dr kelnya yg tahu.
    Dokter sudah menyuruhnya operasi, namun krn tidak ada dana. dia tidak mau. sehingga saat ini hanya menjalani terapi, namun juga tidak rutin.

    dok, apa yg harus dilakukan teman saya ini?
    obat apakah yg cocok untuk teman saya?

    trimakasih banyak dok.
    mohon dibalas

  14. julian pendra says:

    Selamat pagi dokter eka julianta, saya mau tanya dok bulan februari kmren ini saya mengalami keclakaan kaki saya terkena kaca tepat di lipatan di belakang lutut, waktu itu darah saya keluar bnyak sekali hb saya sampai 2,7 dan sempat koma, waktu itu kaki saya hampir di amputasi, tapi tidak jad, sekarang saya sudah sembuh tetapi kaki saya mati rasa, dan dari lutut kebawah gak bisa di gerakin, seperti jari, dan pergelangan kaki saya, apa kah masi bisa disembuh kan penyakit saya ini dok?

  15. endrianto says:

    Kepada Yth. Dr. Eka, kami mohon bantuannya anak saya usia 4 th, nama azifah azizah, sekarang dia menderita tumor di batang otak, kami sudah melakukan MRI di Brain Clinic surabaya.
    Anak saya di vonis terkena tumor di batang otak tgl. 5 Januari 2012, gejala awalnya tgl 20 Desember 2011 anak saya mulai tampak gejala jalan tidak normal (sempoyongan).
    Sekarang yang dilami anak saya akibat tumor tersebut adalah kaki & tangan kanan lumpuh, bola mata tidak simetris lagi, buka mulut susah dan kalau malam hari saat anak tidur sering diserang kejang2 nya.

    Mohon bantuan Dr Eka, dimana saya harus bisa hubungi Dr. Eka?……..

    2 dokter spesialis bedah syaraf di Surabaya, angkat tangan utk melakukan operasi, saran beliau anak saya agar melakukan radiotherapy & kemotherapy.

    Namun keluarga besar kami tidak ingin anak kami malakukan kemotherapy, dengan alasan banyak pengalaman dari kerabat yg setelah melkukan kemotherapy, malah efek sampingnya sangat negative.

    Tindakan yg sudah saya lakukan berobat di RSU. Sejahtera Bhakti – Salatiga (pengobatan herbal), keluar dari RS tgl 15 Januari 2012, sampai sekarang belum menunjukan hasil yang memuaskan.

    Kami mohon bantuan kepada siapapun yang membaca tulisan saya ini, untuk sudi memberikan informasi bagi kebaikan anak saya.

    Bisa hubungi saya Endrianto (082143488254).

Leave a Reply