Generasi penerus pengrajin gerabah semakin berkurang
Dusun Bentangan Desa Bentangan Kecamatan Wonosari, Klaten, telah lama dikenal sebagai penghasil aneka gerabah dari tanah liat seperti kendi, anglo ataupun wajan.
Sebagian besar masyarakat Dusun Bentangan menurunkan kemampuan mereka itu kepada anak cucu secara turun-temurun. Bukan hanya dalam hal produksi, warga Bentangan secara turun-temurun memasarkan produk mereka ke pasar tradisional di Solo, Sukoharjo dan Klaten.
Seorang pengrajin, Tukiyem, 60, menuturkan, kemampuannya membuat kerajinan gerabah tanah liat diperoleh dari orangtuanya. Ibu empat anak itu mengaku anak dan cucunya pun bisa membuat gerabah tanah liat dengan sendirinya. “Saya bisa membuat gerabah ini karena dulu sering melihat dan ikut main-main tanah liat. Waktu belum bisa bikin gerabah, saya kadang dianggap mengganggu. Sudah sekitar 11 tahun saya menekuni pembuatan gerabah. Pekerjaan ini turun temurun,” ucap Tukiyem saat ditemui Espos di kediaman sekaligus tempatnya berkarya, Kamis (15/10).
Perempuan yang sudah dianugerahi empat cucu itu mengatakan, selama ini, suaminya, Gino, 61, yang memasarkan aneka produk gerabah ke pasar. Dulu, kata dia, suaminya mengendarai sepeda onthel ke berbagai pasar seperti Pasar Jongke, Pasar Pedan, Pasar Klaten dan Pasar Delanggu. “Sekarang, alhamdulillah suami saya sudah pakai motor dan berangkat biasanya pagi, pulangnya siang. Kadang juga ada pesanan.”
Rifki Septiadi, 24, salah seorang anak Tukinem, juga mengaku kemampuannya membuat kerajinan diperoleh karena sering melihat aktivitas orangtuanya memproduksi gerabah dari tanah liat. Harga produk gerabah tanah liat yang antara lain berbentuk kendi kecil itu Rp 400/biji, anglo Rp 500-Rp 3.000/biji dan wajan Rp 1.000-Rp 1.500/biji. Untuk membuat gerabah itu, pengrajin membeli tanah liat Rp 50.000 untuk setiap bak mobil pikap.
Kini, seiring perkembangan waktu, jumlah pengrajin gerabah di Dusun Bentangan kian berkurang. Kades Bentangan, Bambang Gunarso SH mengatakan, saat ini orang-orang yang menekuni profesi sebagai pengrajin gerabah sebagian besar sudah berusia lanjut. “Jumlah pengrajin gerabah di Dusun Bentangan sekitar 100 orang. Jumlah pengrajin dari dulu sampai sekarang tidak jauh berbeda. Generasi penerus memang agak kurang. Sebab, banyak pemuda yang meneruskan pendidikan atau kuliah. Selain itu, banyak pemuda bekerja di luar kota.” - Oleh : Nadhiroh
Disalin dari: SOLOPOS, Edisi : Rabu, 04 November 2009 , Hal.VII







