This option will reset the home page of KLATEN ONLINE restoring closed widgets and categories.

Reset KLATEN ONLINE homepage

Hujan belum merata, Krisis air bersih makin parah

kekeringanKlaten (Espos) Krisis air bersih di wilayah Klaten semakin menjadi-jadi. Setelah sebelumnya hanya lima kecamatan yang mengajukan dropping air bersih, kini wilayah krisis di Klaten bertambah menjadi enam kecamatan.

Pelaksana tugas (Plt) Kabag Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Setda Pemkab Klaten, Suwardi, ketika ditemui wartawan Jumat (9/10), di kompleks Pemkab setempat, mengungkapkan Bayat menjadi kecamatan keenam yang mengajukan dropping air bersih untuk dua desa di wilayahnya. Desa tersebut adalah Ngerangan dan Jambakan. “Sudah diajukan saat Lebaran lalu,” kata dia.

Suwardi mengungkapkan, krisis air bersih diprediksi bakal terus terjadi sepanjang Oktober ini, kendati hujan mulai turun. Dia menerangkan, turunnya hujan belum terjadi secara merata. Sehingga, daerah-daerah yang menjadi langganan krisis air bersih, masih kekeringan. “Seperti di Bayat, sumur warga sudah kering sementara sebagian kualitas airnya buruk,” ungkapnya.

Saat ini, total desa yang mengalami krisis air bersih menjadi 31 desa dari sebelumnya yang mencapai 29 desa. Desa tersebut ada di enam kecamatan yakni Kemalang sebanyak 12 desa, Jatinom mencapai delapan desa, Karangnongko mencapai lima desa, sementara Tulung, Manisrenggo, dan Bayat mencapai dua desa.

Sejauh ini, Bagian Kesra Setda Pemkab Klaten telah menyalurkan 1.242 unit truk tangki air bersih ke seluruh wilayah krisis air bersih tersebut. Total anggaran yang telah dihabiskan mencapai kurang lebih senilai Rp 82 juta. Sementara pada APBD 2009 anggaran untuk penanganan krisis air bersih mencapai Rp 168 juta. “Pengiriman dilakukan dengan tiga truk tangki. Dalam sehari rata-rata satu truk tangki melakukan empat kali pengiriman,” urai dia.

Tangkapan air
Suwardi menuturkan, wilayah yang paling rawan krisis air bersih adalah daerah di lereng Gunung Merapi. Daerah tersebut adalah Kemalang. “Karena di sana daerah tangkapan air. Kalau hujan baru saja turun, paling hanya untuk menahan debu, dan masuk ke resapan air,” lanjut dia.

Salah seorang warga Kemalang, Haryono, mengatakan setelah Lebaran kebutuhan warga akan air bersih masih terus meningkat. Kondisi tersebut terjadi mengingat air bersih masih sulit didapatkan. Bahkan, saat awal musim penghujan tiba, jelasnya, krisis air bersih biasanya masih terjadi.

Bagian Kesra Setda Pemkab Klaten, kata Suwardi, memperkirakan krisis air bersih bakal berhenti sekitar awal November 2009. “Tergantung frekuensi hujan di daerah rawan krisis air bersih juga. Kalau hujan lebat hanya terjadi di daerah kota saja, ya krisis air bersih masih terjadi,” pungkasnya. – Oleh : haa

Disalin dari: SOLOPOS, Edisi : Selasa, 13 Oktober 2009 , Hal.VII


.

Leave a Reply