This option will reset the home page of KLATEN ONLINE restoring closed widgets and categories.

Reset KLATEN ONLINE homepage

Jelang Ramadan, pengusaha jilbab sibuk

Klaten (Espos) Sejumlah pengusaka jilbab dan mukena mengaku kebanjiran pesanan menjelang bulan Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri mendatang.

Erwina Kusmarini, 37, salah seorang pengusaha jilbab dan mukena di Dukuh Kwaon Desa Jemawan Kecamatan Jatinom, Klaten, mangaku mulai kebanjiran pesanan dari pelanggan sejak Maret lalu.

Menurutnya, jumlah pesanan jilbab dan mukena biasanya hanya mencapai 900 potong per pekan. Namun sejak bulan Maret lalu, pesanan jilbab dan mukena semakin meningkat, yakni mencapai 2.000 potong per pekan. Puncak pesanan menurut dia terasa pada bulan April hingga Mei. Alhasil, akunya, banyaknya pesanan belum terselesaikan sehingga sejak awal Juni dia tidak lagi melayani pesanan.

“Kami khawatir pesanan jilbab dan mukena itu tidak akan selesai sesuai tenggat waktu yang telah dijanjikan. Untuk itu, terpaksa kami menolak pesanan sejak bulan Juni,” ujar Erwina kala ditemui wartawan di kediamannya, Senin (19/7). Padahal, lanjut dia, usahanya telah mempekerjakan 105 tenaga harian dan 20 tenaga borongan. Nyatanya, dengan membanjirnya pesanan itu, Erwina masih kekurangan tenaga kerja.

Maklum saja, pelanggan jilbab dan mukena Erwina tersebar di kota-kota besar seperti Bandung, Jakarta, Jogja, Semarang, Aceh, Banjarmasin, Palembang, Balik Papan, dan lain-lain. Dalam kondisi normal, para pelanggan itu bisa memberi Erwina omzet Rp 120 juta per bulan. Akan tetapi, menjelang Lebaran dan Ramadan ini, dia meraup omzet hingga Rp 200 juta per bulan. “Sebanyak 70% hasil produksinya dipesan oleh pelanggan dari Bandung,” ungkap Erwina lebih lanjut.

Erwina menambahkan, jumlah pesanan masing-masing pelanggan berbeda-beda, yakni berkisar dari 3.000 hingga 10.000 potong. Hingga kini, Erwina mengaku sudah menciptakan puluhan model jilbab. Masing-masing model, rata-rata diproduksi sebanyak 3.000-5.000 potong. Hal senada juga dikemukakan pengusaha jilbab dan mukena asal Wedi, Herawati. Menurutnya, pesanan jilbab dan mukena mulai ramai sejak April lalu. “Pesanan datang dari berbagai kota seperti Jogja, Solo, Semarang, dan lain-lain,” tutur Hera. – Oleh : mkd

Disalin dari: SOLOPOS, Edisi : Jum’at, 23 Juli 2010 , Hal.VI


.

Leave a Reply