This option will reset the home page of KLATEN ONLINE restoring closed widgets and categories.

Reset KLATEN ONLINE homepage

Klaten yang Sepi Dengan Kesenian Membumi

kesenian-jawaSebenarnya aku sudah ingin marah, ingin protes kepada siapa saja yang merasa menjadi orang Klaten. Memang, sudah lama aku ingin menulis uneg-uneg ini. Tapi karena perbendaharaan marahku belum cukup. Aku pending saja segala uneg-unegku ini. Biar waktu yang berjalan mungkin ada perubahan yang lebih baik. Eh…ternyata sampai detik ini tidak ada perubahan apa-apa. Malah semakin mundur, dan mengalami dekadensi cultural yang sangat parah. Kemarahanku sebetulnya sudah seperti penyakit yang akut dan kronis. Sebagai orang yang sering melihat aktifitas kesenian di Klaten, aku merasa malu dan terasing di daerahku sendiri. Kota ini sudah sangat asing bagiku, sudah sangat kering dengan segala kegiatan kesenian yang membumi.

Katakan saja itu pentas kesenian ; teater, tari, ledhek, dan lain-lain, atau segala bentuk pameran ; seni rupa ( seni rupa masih bisa muncul tapi tak pasti ), pameran buku, pembacaan puisi dan lain-lain. Perlu dingat ! Klaten adalah sebuah kota dalam peta geographis berada di tengah – tengah 2 kota budaya yaitu, Yogyakarta dan Sala.Tapi apa ? Ruang kesenian berekpresi sudah mlempem, bahkan bisa dibilang sudah menjadi fosil yang tak terurus.Ketika daerah-daerah lain sibuk dengan pembenahan ruang ber-ekspresi dan estetis, Klaten justru sibuk dengan pembangunan phisik yang tak tentu arah dananya. Justru yang paling menyedihkan, Klaten sudah dibilang sebagai daerah pemasok VCD porno film amatiran.

Lihat beberapa kasus yang menohok kehormatan moral dan mentalitas di dunia pendidikan dan birokrasi di Kabupaten Klaten ( VCD Banyu urip, VCD Pak Lurah Sumantri, VCD Anak-anak SMP, perselingkuhan para pejabat dll ). Ke mana muka ini harus diletakkan ?, sedangkan muka ini sudah penuh dengan kerusakan mental dari seluruh lapisan masyarakat. Dulu, Klaten dianggap sebagi kota kelahiran dalang.

Karena melahirkan tokoh-tokoh maestro dalang ( Ki Narto Sabdo, Ki Anom Suroto, Warseno Slenk, dll ). Tapi apa yang ada sekarang ? Ketika melihat patung Bapak Maestro dalang kita, saya sebagai orang kesenian, meski saya termasuk orang yang lambat mengenal seni pedalangan tapi, ketika melihat patung yang hanya berukuran kecil dan tak jelas penempatan dan historis dari wajah yang ada di patung itu, saya semakin tak mengerti.

Untuk apa patung itu dibuat ? Kalau hanya sebagai hiasan semata, bukan untuk menjadi kebanggaan yang memang harus dibanggakan. Kenapa patung itu tidak dibuat semonumental mungkin ?, agar orang yang lewat tahu bahwa itu pahlawan kesenian yang asli orang Klaten. Ada kesan bahwa apresiasi dari nilai perjuangan dari beberapa tokoh kesenian di Klaten, kurang di hargai sama sekali.

Semangat untuk membangun mental berkesenian, yang mempunyai tujuan, yaitu : insan manusia yang mempunyai kepribadian, jatidiri, pretise dan memupuk nilai luhur budaya lokal, di Klaten kini sudah tak ada lagi.
Akhir-akhir ini memang ada geliat semangat untuk sekedar membawa warna yang lain dari aktifitas hiburan untuk masyarakat Klaten. Tapi, toh kemasannya hanya untuk bisnis semata dan gaungnya pun hanya mempunyai nuansa seremonial belaka. Alun-alun Klaten setiap minggu pasti ada acara kegiatan yang dilakukan oleh dinas-dinas yang terkait. Seperti yang kami ungkap di atas.

Bahwa kegiatan itu pun kesannya tanpa adanya kesan membentuk kesenian yang membumi dan meng-gaung. Padahal kesenian dihadirkan sebagai sarana, penyadaran diri, ranah instropeksi dan prestise sebuah kelompok kesenian atau duta seni dari daerah itu sendiri. Ketika terjadi sebuah interaksi kesenian dengan audiens ini akan berakibat kepada simbiosis kebutuhan batin dari audiens / masyarakat. Pengangkatan bentuk kesenian asli daerah yang seharusnya selalu digalakkan oleh Kabupaten Klaten, baik kesenian tradisional maupun modern.

Sepertinya semua pihak sudah kehabisan energi semangat untuk berbuat demi perkembangan kesenian di Klaten. Di Klaten sebenarnya ada banyak kesenian tradisionil yang sudah berkembang, misalnya ; seni pedalangan, seni musik lesung, reog-an,laras madyo, ledhek, kethoprak dll. Di seni modern pun juga ada, misalnya : adanya kelompok seni rupawan yang sering mengadakan pameran seni rupa ( Pasren ), pementasan teater ( Teater pisungsung, teater sampah ),Sastra ( Sastro Mbengok ) band, keroncong dll.

Sebenarnya kalau dilihat, bahwa Klaten itu sebenarnya tak bias dibilang ketinggalan dengan daerah lain. Ada beragam macam bentuk kesenian di Klaten dan mempunyai manusia-manusia seniman yang mumpuni. Lihat saja kita mempunyai, Ki Narto Sabdo ( Alamarhum ),Dedi Sutomo ( Dramawan, sekarang tinggal di Jakarta ) Ki Anom suroto ( Solo ), GM.Sudharta, H. Sunarto, Mhum, Warseno Slenk dll. Kelompok –kelompok kesenian yang membumi pun sebenarnya banyak yang ada di Kabupaten Klaten baik, tari, lukis, teater / drama, kethoprak, ledhek,musik lesung, laras madyo, reog dll. Sayang mereka sekarang pun hanya punya nama dan historis saja.
Dari uraian di atas, saya ingin memilah , kenapa beberapa kelompok kesenian di Klaten itu sekarang mandeg / stagnant tanpa ada daya hdup sama sekali ? Permasalahan itu mungkin karena :

  1. Kurangnya dana untuk membuat sebuah kegiatan kesenian ( permasalahan klise yang tak bisa dielakkan lagi )
  2. Kurangnya kepekaan pihak-pihak yang terkait dengan mereka ( pemda, dewan Kesenian, akademisi ). Atau bisa dibilang tak ada penghargaan yang berarti dari pemerintah, pihak yang terkait dengan hasil kerja keras mereka demi perkembangan kesenian di Klaten.
  3. Pihak-pihak sponsor yang malas-malasan untuk memberi ruang ber-ekspresi ( pendanaan ) kepada seniman / kelompok kesenian yang mementaskan sebuah bentuk kesenian yang kurang nge-pop, unmarketable, ndeso, kuno dan off todate
  4. Kurangnya interaksi yang terbangun antara seniman / kelompok kesenian dengan masyarakat.
  5. Tak adanya tempat yang representative untuk meng-ekspresikan hasil karya / reportoar para seniman / kelompok kesenian. Misalnya : gedung kesenian, ruang publik yang nyaman,komunikatif,akses masyarakat yang mudah dan terjangkau, ramah dan bernuansa seni.
  6. Seniman / kelompok kesenian yang tak percaya dengan perhatian pemerintah / masyarakat terhadap eksistensi mereka sendiri. Ini berakibat kepada para seniman / kelompok kesenian akhirnya lari ke daerah lain ( Yogya, Solo, Semarang, Jakarta dan deerah-daerah lain ) yang lebih menjanjikan untuk kehidupan yang lebih layak.
  7. Ketidakpercayaan ( kurang pe de ) diri dari para seniman / kelompok kesenian dengan hasil karya mereka sendiri karena permasalahan di atas.Ketidakpercayaan itu adalah, maukah masyarakat menerima eksistensi mereka / karya mereka ? Karena sekarang ini yang terjadi adalah adanya invasi budaya kesenian massa, yang hanya ber-orientasi kepada hura-hura belaka tanpa adanya subtansi penyadaran diri dan pencitraan diri, ketika melihat sebuah bentuk kegiatan kesenian. Dari semua itu, akhirnya terjadi stagnasi penciptaan dan eksistensi.

Itulah permasalahan-permasalahan yang saya kira menjadi pe er kita bersama, agar masyarakat Klaten mampu mengenal bentuk kesenian daerahnya sendiri.Semua itu bisa terwujud , dengan adanya dukungan dan pemikiran semua pihak yang terkait dengan permasalahan di atas ( seniman, pemerintah,dewan kesenian kritisi, akademisi, pers,sponsor /perusahaan, masyarakat dan lain-lain ). Karena semuanya ini akan saling meng -kait satu sama lain. Seniman / kelompok kesenian tanpa dana / finansial juga tak bisa jalan, begitupun juga seniman / kelompok kesenian tanpa adanya penonton, tanpa ruang untuk meng-ekspresikan hasil karya mereka juga sama juga bohong.

Masyarakat pun harus sudi menerima mereka untuk bisa meng-ekspresikan hasil karyanya di hadapan mereka ( masyarakat ), dengan memberi stimulun semangat untuk selalu berkarya demi sebuah eksistensi dan kebanggan lokal. Dari itu semua, marilah kita bisa duduk bersama, berpikir dengan satu pintu kebersamaan untuk membangun citra Klaten yang lebih baik tanpa adanya stereotip pemikiran yang beragam. Karena Klaten apapun sebutannya mempunyai arti sendiri dari perjalanan sejarah kesenian di Indonesia.

Klaten, Sept ‘08
Penulis
Dendy Rudiyanta
Cerpenis, Pimpinan Paguyuban Seniman Muda Klaten “Pisungsung“,
Pengamat Kesenian Klaten, Anggota Dewan Kesenian Kabupaten Klaten

Diposting pertama 08 Januari 2009
Diposting kedua 04 Mei 2009

.

12 Comments

  1. admin says:

    Yup! saya pribadi sangat setuju dengan Bpk Dendy… Kesenian adalah aset yang perlu dilestarikan…
    Sewaktu kecil saya sering di ajak Ayah saya ke pagelaran Wayang, selayaknya anak kecil yang saya sukai adalah banyaknya penjual mainan… Sesekali saya melihat Dalang memainkan aksinya…
    Rindu rasanya akan hal demikian… Sekarang sudah jarang saya temui pagelaran wayang, yang ada hanyalah malah pertunjukan dangdut dengan penari eksotis yang merusak moral…
    Ternyata kesenian berperan dalam membentuk moral… So, mari kembangkan kesenian daerah dan menjadi manusia pecinta seni…

  2. dendy says:

    kekangenan saya sama dengan njenengan. ketakutan saya adalah, kelak generasi penerus kita akan kehilangan jati diri, yang akan mewujudkan manusia yang isi otak dan jiwanya kopong. Yang terjadi sekarang ini adalah budaya instant kaputalistik. Matur nuwun atas komentarnya.

  3. Ega says:

    Wah, lagi pada ngomongin seni nih. Saya anak fakultas Sastra & Seni Rupa UNS, setuju aja deh dengan pak Dendy n pak Admin. Jika negara lain aja menghargai kesenian Indonesia, mengapa kita tidak? Apa harus menunggu diaku-aku negara lain dulu baru teriak2 gak terima?
    Ayo donk cintai seni dan budaya kita!

  4. adji says:

    mas dendy, kapan2 kalo ada waktu dolan ke tempat saya..kebetulan kita dirumah jadi ajang latihan karawitan anak2 usia SD dan free of charge mas. so meskipun artinya sangat kecil buat pelestarian budaya dan pembentukan karakter bangsa tp mungkin ini bisa dijadikan model pembinaan. ta tunggu mas mungkin sapa tau ada muncul ide untuk mengembangkan jenis2 kesenian yang laen

  5. dedi p. says:

    salam kenal mas dendy,
    saya juga orang klaten yang stdi di senirupa uny..mbok kalo ada apa2 kabar2

  6. admin says:

    Ya mas Dedi, langsung aja ke website ini, selalu kami usahakan untuk update berita terbaru seputar Klaten. Atau mas Dedi bisa mengirimkan karya atau artikelnya ke sini biar lebih rame lagi :)

  7. dendy says:

    yak. makasih. saya pribadi sejak puluhan tahun mencari teman2 yg mau rembukan maslah kesenian. mungkin, saatnya kita bs kumpul utk rembukan maslah kesenian khususnya utk klt. yah, sekedar brainstorming dl, nnti pasti ada ide. krn sy sdh banyak kehilangan energi untuk ngomong maslh kesenian di klt. kalo tmen2 mau rembukan, kpn kita bisa ktemu ? Salam untuk smua yg peduli dgn klt. Trims utk klatenonlinenya.

  8. Pakne Gonjang says:

    Klaten adalah produsen utama seniman tradisional yang handal ; tokoh-tokoh seniman yang ngisi kancah kesenian tradisional baik di Solo maupun Jogja dan sampai Luar Negeri ya org2 Klaten. saya juga org klaten kebetulan ngajar Seni budaya di SMK Petrus Kanisius. salut dan prihatin juga dengan kehidupan seni tradisi. tapi jelas bahwa akar permasalahnya bukan pada generasi muda. ternyata ketika saya bicara tentang wayang, gamelan dan kethoprak pada siswa, mereka semangat, ternyata alasan mereka tidak menyukai seni tradisi 70 % adalah TIDAK TAHU DASAR DAN APAPUN TTG ITU, 10 % karena waktu pertunjukan yang lama, 10 % karena tidak
    bersambung …. maaf harus ngajar lagi

  9. Pakne Gonjang says:

    KABAR BAIK KAWAN-KAWAN DI SENI TRADISI !!!
    Tolong sebarkan berita baik ini kepada semua rekan-rekan/anak-anak kita yang berusia Pelajar/MHS untuk mengikuti acara FESTIVAL KETHOPRAK PELAJAR KLATEN 2009 yang diaakan oleh Dewan Kesenian Klaten. Pendaftaran Paling lambat 19 Juni 2009 untuk info lebih lanjut hubungi : No. 08122602797 (Dewan Kesenian) atau No. 081548664549 (KKMTR kelompok Kerja Muda Teater Rakyat)

  10. sunarto says:

    teruntuk semua sahabat di klaten

    saya juga merasakan hal yang sama,walaupun saya termasuk angkatan muda tapi saya juga ikut prihatin,saya masih ingat waktu kecil ( 80′ansaya bagaiman geliat seni di klaten mulai dari wayang kulit ,wayang orang,dan aneka pentas seni lainya.kalau mau jujur pada saat saat itulah masyarakat masih rukun dan hidup tenang walau serba susah.

  11. dendy says:

    siapa yang mau gabung dalam pementasan teater.acaranya sekitar bulan maret.kita tunjukkan bahwa teater / drama di klaten still alive.

  12. Salam Budaya.
    Salam kenal bagi pekerja seni, seniman, budayawan, sastrawan di wilayah Klaten. Nama saya Moh. Nurdiansyah saya belum lama tinggal di Klaten alamat saya di Tempel Ndono. Saya lahir di Kota Palu Sulawesi Tengah. Saya ingin bergabung dengan sanggar teater yang ada di Klaten. tapi saya bingung harus ke mana. Kalau boleh saya ikut bergabung..saya mencintai seni budaya Indonesia. saya suka di teater mas. Ini no hp saya mas. 085643318250. Nuwun…

Leave a Reply