Pertambangan liar disoroti. Dituding jadi beking, Bupati Sunarna berang
Klaten (Espos) – Nama Bupati Klaten H Sunarna SE MHum diduga dicatut untuk melegalkan aksi pertambangan liar. Tak urung, Bupati pun berang dan menegaskan akan segera menutup seluruh pertambangan liar di Klaten.
Ditemui wartawan di kompleks Radio Siaran Pemerintah Daerah (RSPD) Klaten, Selasa (16/6), Kepala Daerah tak menutupi kemurkaanya atas klaim penambang liar itu. Dipaparkan Sunarna, dirinya telah mendengar informasi adanya penambangan di wilayah Gemampir, Karangnongko yang diaku-aku sebagai milik adiknya. “Secepatnya akan kami sisir dan ditutup. Ini juga berdasarkan rekomendasi rapat dengan Pemprov Jateng di Magelang. Dalam rapat tersebut terungkap, di Klaten ada sedikitnya 14 lokasi pertambangan liar,” tegasnya.
Sunarna mengaku terkejut karena namanya disebut-sebut sebagai beking pertambangan liar yang menyatakan seakan-akan lokasi pertambangan liar itu milik sanak keluarganya. Atas pencatutan namanya itu, Bupati tegas membantah. Dia menegaskan tak menjalankan aktivitas pertambangan di Klaten, terlebih lagi yang tidak berizin. “Tidak ada satupun penambangan, buat apa saya (punya-red)?” tukas dia.
Tak mengejutkan
Menanggapi rencana penutupan pertambangan liar itu, anggota Komisi III DPRD Klaten, Marjuki, mengaku tak terkejut dengan adanya aksi pencatutan nama Bupati tersebut. Dia justru merasa heran dengan keterkejutan Bupati atas dugaan pencatutan itu. “Sebenarnya hal seperti ini bukan lagi sebuah kejutan. Rekomendasi mengenai penertiban pertambangan liar sudah kami lakukan sejak dari dulu. Itu wacana lama.”
Namun, jelas Marjuki, dia menilai Pemkab Klaten maupun Pemprov Jateng belum memiliki langkah konkret terkait upaya penertiban tersebut. Padahal, apabila mereka serius, baik Bupati maupun Gubernur, bisa saja segera menutup semua lokasi pertambangan liar itu. “Apabila ada good will dan Gubernur serius, itu tidak sulit, sangat mudah,” katanya.
Yang ditunggu masyarakat saat ini, lanjut Marjuki, adalah realisasi penutupan sebagaimana dijanjikan Bupati itu. Kerap kali, sambungnya, apabila wacana tersebut berkumandang, muncul ketakutan pemerintah bakal berhadapan dengan masyarakat. “Padahal, masyarakat di sana itu sebagian besar adalah penambang manual. Tidak berakibat secara langsung terhadap mereka. Mestinya sudah risih sejak dari dulu,” pungkas dia. – Oleh : haa
Disalin dari: SOLOPOS, Edisi : Rabu, 17 Juni 2009 , Hal.VII






iya mas, penambangan pasir di kampung saya (kediri) juga parah. kali brantas di sepanjang kediri sudah hampir habis pasirnya. kemaren pas pulang nyoba nyebur sungai, dasarnya udah tanah keras… dulu (pas SD) ketebalan pasir bisa sampai 1 meter bahkan lebih
Memang seharusnya begitulah Pak Sunarna. Tegas terhadap segala sesuatu yang tidak berjalan sebagaimana mestinya. Aksi penambangan yang liar memang perlu ditertibkan, karena dapat5 berdampak jelek bagi lingkungan sekitar jikalau tidak terkontrol.
Yang di Gemampir itu mestinya pengelola tambang tidak mencatut nama keluarga bupati, dan Pak Narna pantas geram terhadap tindakan pencatutan itu.
Oke Pak Narna, Lanjutkan tugas bapak.
Kami sebagai warga kota Klaten yang baik akan berusaha sebaik-baiknya menjaga Klaten ini.
Pak Sunarna jangan cuma ngomong doang.., kalau bener yg di ucapkan buktikan dengan menutup segera. Karena jelas penambangan liar sangat merugikan ekosistem dan kelestarian alam. Tapi jangan menutup mata dengan nasib penambang yg dapat rizky dari penambangan liar itu, kasih alternatif pekerjaan yg ramah lingkungan.