Petani diimbau waspadai leptospirosis
Klaten (Espos) – Kepala Dinas Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial (DKKS) Kabupaten Klaten, dr Ronny Roekminto MKes meminta para petani setempat untuk mewaspadai keberadaan tikus, terlebih lagi apabila para petani itu dalam keadaan memiliki luka.
”Leptospirosis sudah menjadi ancaman. Besok Senin (hari ini-red), akan ada survei rutin, khususnya terhadap tikus di Ngawen dari BPVRP (Balai Penelitian Vektor dan Reservoir Penyakit-red) Salatiga. Dari survei itu akan dilihat daerah mana yang endemis. Antisipasi lain yaitu kami lakukan yaitu penyuluhan dan meminta kepada petani untuk mewaspadai tikus apalagi jika sedang mempunyai luka. Sebab, penularan leptospirosis melalui luka,” papar Ronny saat ditemui wartawan, Jumat (8/5).
Ronny menyarankan para petani yang memiliki luka untuk melindungi luka mereka saat hendak terjun ke sawah. Dia sangat berharap masyarakat —utamanya petani— untuk hati-hati, sebab dari tiga kasus leptospirosis yang tercatat di Klaten dalam tiga pekan terakhir, ada satu kasus yang penderitanya meninggal dunia.
Dipaparkan Ronny, beberapa tahun lalu kasus leptospirosis terdeteksi muncul di Jogonalan. Sedangkan saat ini ada titik-titik baru yaitu Ngawen dan Karangnongko. ”Kami mengajak petani untuk gropyokan tikus secara mandiri. Selain bisa menimbulkan penyakit, kehadiran tikus juga bisa mengurangi produktivitas tanaman petani,” ucap Ronny.
Saat ditanya apakah leptospirosis di Klaten sudah digolongkan sebagai kejadian luar biasa (KLB) atau wabah, Ronny menyangkal Menurutnya, tiga kasus leptospirosis di tiga titik berbeda Kabupaten Klaten itu belum memenuhi kategori KLB.
Seperti diberitakan SOLOPOS (5/5), sejak tiga pekan lalu, leptospirosis ditengarai telah menyerang setidaknya tiga warga di tiga kecamatan Kabupaten Klaten. Tunggas, 35, seorang warga Dukuh Gentan, Gemampir, Karangnongko bahkan tewas akibat penyakit itu. – Oleh : nad
Disalin dari: SOLOPOS, Edisi : Senin, 11 Mei 2009 , Hal.VIII




