Pilkades, gambaran demokrasi di tingkat bawah
Jauh sebelum Pemilu legislatif dan Pemilu presiden di Indonesia menggunakan tata cara pemilihan secara langsung, pemilihan kepala desa (Pilkades) di wilayah Soloraya telah menggunakan sistem itu.
Mekanisme itu tetap dipertahankan masyarakat hingga kini. Nilai tradisional dalam Pilkades di sebagian desa pun belum diubah. Seperti yang terjadi di Pilkades Desa Bolali, Wonosari, Minggu (8/2) dan Pilkades di Desa Jatipuro, Trucuk, Sabtu (7/2).
Kondusivitas pelaksanaan Pilkades di kedua desa tersebut mungkin bisa menjadi masukan untuk Pemilu mendatang. Pasalnya, dengan dana yang terbatas, panitia mampu menyempurnakan momentum penting bagi seluruh warga dengan aman dan tentram. Tingkat kehadiran pemilih juga memuaskan, meski tidak ada fatwa haram yang mendesak warga untuk datang ke tempat pemungutan suara.
Suparmo, 60, warga Dukuh Pajangan, Desa Bolali menjelaskan kepada Espos di sela-sela Pilkades Bolali, khusus hari pemungutan suara itu, dia tidak ke sawah untuk bekerja karena baginya dengan memilih salah satu calon yang dijagokannya berarti dia sudah memberikan kontribusi bagi kelangsungan pemerintah desa ke depan. Selain untuk memilih, Suparmo juga antusias dengan suasana Pilkades yang tak ubahnya kesempatan untuk bertemu dan berkumpul dengan seluruh warga setempat. “Kalau Pilkades begini lebih meriah dibanding Pemilu,” tutur dia.
Suasana Pilkades di Bolali memang sangat meriah. Selain warga desa setempat, warga desa tetangga juga tampak turut menyaksikan Pilkades tersebut. Aneka jajanan juga ditawarkan para pedagang di sekitar lokasi pemungutan suara. Tak ketinggalan, irama keroncong juga menjadi bumbu penyegar Pilkades Desa Bolali itu.
Setelah waktu pemilihan ditutup, suasana berubah tegang. Warga langsung berkumpul untuk menjadi saksi penghitungan suara. Beberapa di antaranya, bahkan ikut menyiapkan kertas untuk ikut menghitung perolehan suara. “Kalah menang biasa, kami ini kan satu saudara. Jadi, suasana aman tetap harus dijaga,” terang salah seorang warga, Suwardi, 44.
Hasil akhir perolehan suara menentukan Sarjono Darmaji (logo Padi) kembali menjabat sebagai Kades Bolali karena mampu mengunguli Suwarno (logo ketela). Sementara itu, di Desa Jatipuro, Teguh Widada berhasil menyingkirkan kedua lawannya, Purwaningsih dan Kartini.
Sarno, 53, warga Dukuh Sumyang, Desa Jatipuro menuturkan, kondisi Desa Jatipuro saat Pilkades berjalan tenang. Bagi Kades terpilih diharapkan bisa menjadi pemimpin yang bersahaja dan mampu memegang amanah warganya. – Oleh : Hanifah Kusumastuti
Disalin dari: SOLOPOS, Edisi : Senin, 09 Februari 2009 , Hal.VIII




