Unduh untung hama jambu mete, avokad dan kedondong
Ulat sutra yang bernama keren Bombyx mori, selama ini, dianggap sebagai hama oleh para petani jambu mete, avokad atau kedondong. Mereka membunuh mahkluk itu, baik dengan cara konvensional ataupun menggunakan obat-obotan kimia.
Padahal, andai saja petani mau memutar otak, ulat yang mengeluarkan benang tersebut justru bisa menjadi sumber penghasilan tambahan. Kreativitas itulah yang dilakukan Mukardani, 45, warga RT 1/RW III Dukuh Banjarsari Desa Kebondalem Kidul Kecamatan Prambanan, Klaten.
Dia tercatat sebagai satu-satunya pengusaha kain dari ulat sutra liar di Klaten. Di tengah kesibukannya berjualan kain sutra, Mukardani berkisah tentang upayanya merintis usaha itu 15 tahun silam. Mukardani mengaku mulai tertarik menjalankan usaha pembuatan kain dari kepompong ulat sutra liar adalah karena belum banyak pengusaha yang bergerak di bisang itu.
Berbeda dengan ulat sutra yang diternakkan, ulat sutra liar mengandalkan bahan baku langsung dari alam. Itulah pasalnya, pasokan bahan baku pun lebih terbatas dibandingkan dengan ulat sutra ternakan. “Dalam setahun, saya hanya mendapatkan 70-100 kg kepompong. Kami mendapatkannya dari sejumlah petani jambu mete, avokad dan kedondong yang tersebar di Klaten dan Wonogiri,” ujar Mukardani saat ditemui Espos di kompleks Pabrik Gula (PG) Gondang Baru, akhir pekan lalu.
Minimnya pasokan bahan baku itu dikarenakan semakin langkanya populasi liar ulat ini di alam. Diakuinya, tidak sedikit petani jambu mete, avokad atau kedondong yang merasa dirugikan dengan adanya ulat tersebut. Padahal, jika mampu mengembangkan potensi alam tersebut, para petani bisa mengambil keutungan jutaan rupiah. “Saat ini, 1 kg benang sutra liar dijual seharga Rp 1,5 juta. Jika sudah jadi kain, harganya bisa lebih mahal, yakni Rp 500.000-600.000/meter,” ujar Mukardani.
Dalam mengolah kepompong ulat sutra menjadi kain, Mukardani memilih menggunakan alat-alat tradisional. Untuk memintal benang Mukardani menggunakan alat tradisional yang disebutnya jantra. Sementara untuk merajut benang menjadi kain, Mukardani menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM). – Oleh : Moh Khodiq Duhri
Disalin dari: SOLOPOS, Edisi : Jum’at, 13 Agustus 2010 , Hal.VI





baru tahu ternyata ada juga ulat sutera liar ya,